tempat hati berpulang

Dari catatan juang.

Tentu saja bukanlah hal yang mudah, tatkala beberapa puluh tahun yang lalu, ibu berniat menerima lamaran bapak yang terpaut usia belasan tahun lebih tua. Apalagi bapak adalah seorang eks tahanan politik. bisa dibayangkan tantangan yang harus dihadapi ibu: ketidaksetujuan kedua orang tuanya, serta omongan keluarga besarnya.

Padahal alasan ibu sangat sederhana. Katanya, hanya bersama bapak dirinya menemukan kedamaian. Setelah bapak dan ibu menikah, mereka memiliki dua orang anak: aku dan adikku. 

Dan seiring berjalannya waktu, bapak membuktikan pada dunia bahwa dirinya adalah seorang pemimpin keluarga yang teladan. Ia menjelma iman yang baik untuk istri dan anak anaknya. Lambat laun kedua orang tua ibu menerima jalan yang dipilih oleh anaknya.

Setelah ibu tiada perekat kami seolah hilang. suasana rumah tidak lagi sama. Kini menjadi semacam terminal dimana kami cuma singgah sebentar sebelum kembali pergi kepada dunia kami masinh-masing. Adikku sibuk dengan pekerjaannya. Aku sendiri harus kerja serabutan dikota lain. Kami harus bekerja keras agar hidup berkecukupan.

Bapak tidak pernah cerita, tapi aku yakin, hatinya masih terluka. Luka  yang menganga tersebut menimbulkan jarak diantara kami semua. Jika aku pulang kerumah, kami jadi jarang berbincang; jarang bercengkrama untuk sekedar bercerita. Ah aku rindu berkumpul seperti dulu, tertawa lepas hingga lupa waktu. 

Dua malam sebelum idul fitri, aku dan bapak yang sama sama sedang disibukkan pekerjaan tiba tiba mendadak meledak dan bertengkar. Mungkin kami lelah dengan keadaan. Setelah itu ada keheningan. beliau terdiam dikamarnya, dan aku yang bodoh ini hanya berdiri didepan pintu, berharap punya cukup keberanian untuk memeluknya.

Akhirnya, aku cuman mampu membeli makanan kesukaannya. Kutaroh didepan pintu sebagai tanda damai dari anak sulungnya yang punya ego setinggi langit untuk lebih dulu menyapanya. Sementara bapak bungkam seribu bahasa.

Hari raya pun tiba. Itu adalah lebaran pertama kami tanpa kehadiran ibu. Ada yang kosong. Dan bapak hanya bisa menangis diam diam seberes sholat id. Tak ada kening yang beliau cium lebaran kali ini. Separuh jiwanya hilang, aku bisa apa? aku benci pada keadaan yang makin berat, yang membuat kami kehilangan perekat. Aku benci pada diriku sendiri yang belum mampu membahagiakannya. apakah pantas aku memanggilnya "bapak"? ia yang diam diam menganggapku sebagai juara pertama malah kuperlakukan sebagai juara terakhir. 

Seberes sholat id, bapak menyerahkan tangan untuk bersalaman. Aku malah memeluknya. Bapak menepuk nepuk punggungku, pertanda semua akan baik baik saja. Aku menemukan rumah disana. "maaf" ucapku. bapak-seperti biasa-hanya diam dan mengangguk. lebaran tak akan lagi sama. Namun aku percaya, bahkan hujan yang terburuk pun akan menemui akhir.  kami hanya sedang menyesuaikan diri untuk kembali stabil. Dan, meski lebaran kali ini kami lewati tanpa ibu, aku yakin bapak, serta adikku, akan selalu menjadi tempat hatiku berpulang.

Komentar

Postingan Populer