"perihal waktu" sapardi djoko damono
ketika rabu menyebrang ke sabtu, jam bertak seperti biasanya. dan sabtu harus segera bersiap untuk menjelma rabu. sementara daun daun peninggalan tidak merasa harus bertahan di dinding itu.
hidup adalah penyebrangan yang menggantung antara rahim dan bumi. kepada penjaga jembatan, kita cukup menganggukakkan kepala sekadarnya, lalu melintasinya agar bisa sampai di seberang sana. dan kita akan ikut saja dalam antrian yang panjang tidak tergesa-gesa, tak ada yang menghalangi kita. siapa yang menantiku di seberang? sungguh adakah yang menantiku? kau suka tidak percaya katamu selalu. aku tidak tahu apakah itu caramu menyatakan cinta kepadaku. dan ketika rabu menyebrangkan aku ke sabtu, kau ternyata sudah berada disana-bersiap untuk berangkat ke rabu. tanpa melambaikan tangan kepadaku sebab kita senantiasa bersama di dalamnya diluar waktu.
kemarin. kemarin kini dan besok gemercik mengalir di sela-sela batu di atas jembatan penyebrangan itu. kemarin, kemarin kini dan besok. kemarin, kemarindan besok mengalir di samudra yang sejak dalam rahim ibu telah menciptakan alunan gelombang nun jauh di dalam diri kita. mereka, kau tahu? sama sekali tidak menunggu kita
Komentar
Posting Komentar