GUNUNG KERINCI part1
gunung kerinci
sedikit cerita tentang pendakian gunung kerinci
ini kali kedua saya mendaki gunung kerinci setelah tepat setahun sebelumnya bersama teman-teman satu tongkrongan anes, david dan reza. beda halnya dengan kali kedua ini saya dan anes ikut serta membawa pendaki lainnya yang baru pertama kali naik gunung alga, ikwan, irham, prasetyo, fikri, vitos dan agil. usia mereka lebih muda dari saya hanya ikwan, prasetyo, irham dan anes terpaut usia 3 tahun diatas saya.
kesepakatan dari awal kami berencana start dari pintu rimba jam 6 pagi dan kami datang lebih awal dari pendaki lainnya. alih alih ingin langsung ke shelter 3 kami mendapatkan banyak halangan. pada pos pendaftaran penjaga pos tak kunjung bangun dari tidurnya setelah satu setengah jam kami menunggu. teman teman lainnya bete, kecewa serta bosan dengan menunggu. satu teman lainnya membangunkan penjaga dari tidurnya dengan mengetok kaca tempat penjaga tidur, terdengar tidak sopan tapi ya mau gimana lagi.
tiga puluh menit setelah mengetok kaca akhirnya penjaga pos bangun dari tidurnya dan langsung menanyakan "ada bawa surat sehat dari dokter?" satu teman lainnya menjawab "ada" dengan antusias.
setelah surat keterangan sehat dari dokter diperiksa kami mendapatkan masalah lagi, suratnya bekas fotocopi-an. kami mulai cemas takutnya kami tidak diizinkan masuk karena surat tersebut tidak resmi dari dokter, alasan kami sederhana, kami tidak ingin mengeluarkan banyak biaya untuk membuat surat keterangan dokter. ada beberapa teman yang belum divaksin. karena salah satu syarat dari surat keterangan sehat harus sudah divaksin.
kami mendapat kecaman dari ketua penjaga pos yaitu pak dudung. kami dimarahin dan dibentak. semua terdiam dan hanya saya sebagai kepala rombongan yang bicara dengan pak dudung. alih alih ingin menyelesaikan masalah dengan kepala yang dingin, pak dudung malah menelpon polisi yang katanya kami memalsukan surat keterangan sehat, dan apabila memalsukan surat tersebut kami akan dipidana. teman teman lainnya mulai cemas dan takut.
tak lama setelahnya polisi pun datang menemui kami dan mulai membentak kami. padahal bicara dengan tenang dan santai akan lebih membuat hati kami tidak cemas. disela sela polisi dan pak dudung membentak kami saya sedikit memberikan ketenangan dan menanyakan "solusinya bagaimana pak?" akhirnya saya pun dibawa ke kantor pak dudung tepat disebelah pemeriksaan logistik.
saya diintrogasi layaknya orang yang akan dihukum. saya ditanyai banyak hal, ini dan itu. dari sekian banyak pertanyaan bukannya solusi yang dicari malah amarah yang terus keluar dari mulut kedua orang itu. akhir dari pembicaraan kami, akhirnya saya mulai jujur. bahwa kami kekurangan dana untuk membuat surat keterangan sehat dari dokter yang dimana biaya pembuatan surat dua puluh lima ribu per orang. beberapa dari teman teman enggan untuk mengekuarkan biaya sebanyak itu.
pak polisi mulai menanyakan kesanggupan kami untuk membayar beliau ngopi, walah saya sudah tebak dari awal ujung ujungnya pasti uang. dan saya menanyakan berapa untuk membayar beliau dan teman temannya untuk ngopi. yaitu dua puluh lima ribu per orangnya. tanpa pikir panjang saya langsung menolak dengan cara yang sopan.
setelah satu jam saya diintrogasi akhirnya pak dudung mengambil solusi yang terbaik. yaitu dengan membuat surat perjanjian jikalau hal ini tidak boleh terulangi lagi. memang benar semua ini kesalahan dari kami pendaki yang kere. alasan semuanya sederhana, jikalau terjadi apa apa nanti petugasnya juga yang ribet. saya mengamini dan mengaku kesalahan kami.
akhirnya jam 9 kami mulai masuk pintu rimba, alih alih ingin mendaki jam 6 malah jadinya jam 9. kami mulai berdoa dan dipimpin oleh saya sendiri. berdoa untuk keselamatan.
setelah 3 jam setelahnya kami sampai pada pos 3 gunung kerinci. pada peristirahatan saya baru sadar topi yang saya kenakan jatuh entah kemana. saya tidak ingin mencarinya dibawah sana. sudah capek dan saya relakan saja. saya mulai mengeluarkan rokok yang berada di tas kecil yang dikenakan teman saya yang dimana tempat saya meletakkan rokok, hp dan beberapa barang penting lainnya. saya juga baru sadar rokok yang baru saja saya buka segelnya dan baru beberapa batang saya hisap malah ketinggalan di pintu rimba tempat parkir motor. walaupun kami catar mobil dan tidak membawa motor. waduh saya kekurang amunisi rokok diatas nanti. tidak apa apa rokok teman masih ada hehe.
setelah stengah jam isirahat akhirnya kami mengeluarkan nasi dan makan yang dimana nasinya kami siapkan dari rumah. kami makan dan enak. akhirnya kami melanjutkan perjalanan. pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh pendaki yang baru pertama adalah "dekat lagi? masih lama? kok belum sampai juga?" saya bosan denvan pertanyaan itu. mungkin sudah ditanyakan puluhan kali. kondisi yang lelah, letih dan capek tidak begitu terasa dikarenakan kami dihibur selalu dengan coletehan dari teman bernama irham. dia lucu dan cepat marah yang membuat kami tertawa setiap mendengarnya. walaupun body shaming tapi kalau untuk orang yang sudah kenal lama itu tidak jadi soal dan tidak dipermasalahkan. lagian kami sudah berdamai dengan kondisi wajah dan tubuh kami.
tidak lama kami akhirnya sampai di shelter satu, istirahat tiga puluh menit dan bikin kopi. kami akhirnya melanjutkan perjalan ke shelter 2.
jam menunjukan pukul 6 sore. langit mulai gelap dan kami mulai mengeluarkan headlamp, headlamp yang kami bawa cuman 6 dan tiga teman lainnya tidak memakainya. saya yang kepala rombongan berdiri paling didepan. anes yang sebelumnya pernah mendaki gunung kerinci berdiri di barisan paling belakang. segala informasi yang saya lihat dan saya rasakan, entah itu licin atau apapun itu selalu saya beri tahu kepada teman teman yang dibelakang saya.
hujanpun turun yang membuat kami panik mengeluarkan jas hujan ketika di shelter2. sembilan orang dari kami mulai merasakan kedinginan di ketinggian 3072 mdpl. suhu dikisaran 18 derajat celcius yang membuat kami kedinginan. salah satu cara agar tidak kedinginan adalah dengan cara terus bergerak melaju kedepan. jika istirahat sejenak kami akan merasakan lagi kedinginan. semua satu satu keatas melewati berbagai rintangan. kami berjalan diatas akar kayu dan dibawah rimbun pohon yang tingginya sekitar 5 meter. ketika 30 menit hendak sampai di shelter3 pohon pohon mulai kerdil yang tingginya sepinggan orang dewasa.
Dan tibalah kami di penghujung jalan dishelter 3, dikejauhan tampak tenda sudah ditegakkan. hati yang awalnya cemas dan tak sabar ingin mendirikan tenda dan beristirahat dengan tenang. semua terbayarkan. yang menjadi pertanyaannya adalah seberapa cepat tenda kami berdiri?
suara saya pun tercekat. amatlah dingin jika diceritakan. saya dan teman lainnya langsung menanak nasi. sebagian lainnya mendirikan tenda. itu perintah saya dari awal sebagai kepala rombongan. supaya jika tenda sudah berdiri kami tidak perlu lagi menunggu waktu makanan sudah siap.
selang 1 jam tenda telah berdiri dan makanan pun sudah siap. kami istirahat dan bersenda gurau. merokok dengan tenangnya. disela sela obrolan yang hangat pandangan saya tertuju kearah pria yang bernama ikwan yang terpaut usia 3 tahun lebih tua dari saya. ia kembali merokok, orang yang biasanya tidak pernah saya melihat merokok tapi kini yang kembali menghembuskan asap rokok yang dihisapnya.
"wih udah ngerokok ya sekarang, dingin ya?" tanya saya dengan nada yang agak sedikit kencang, ia tahu saya selalu bergurau.
selang 30 menit waktu berjalan akhirnya kami pun siap siap untuk tidur. ditenda kami ada berlima, dan sebelah nya empat orang. kami mulai memasuki sleeping bag kami masing masing, tak lama kemudian ikwan yang tidur disebelah kiri saya tiba tiba terbangun. ia sesak nafas. kami pun panik. prasetyo yang ngantuk dan tak mau bangun dan langsung melanjutkan tidurnya. saya mulai menenangkannya. sesak sangatlah sesak tampak dari setiap hembusan nafasnya. saya memberikan pernafasan tarik nafas kemudian tahan didada dan perut kemudian dilepaskan secara perlahan. berulang saya suruh ia peragakan.
tidak bisa, memang tidak mempan. ia membuka jendela tenda sambil mengeluarkan kepalanya. ingin menghirup udara segar dari luar yang membuat kami merasakan dinginnya angin diluar.
"keluarlah sebentar, ambil udara segar dari luar" ucapku sembari menenangkannya dari sesak yang ia rasakan.
"mari kita keluar, tidak apa apa denganmu teja? diluar dingin aku takutnya kamu keberatan" ucapnya.
tanpa berkata kata saya pun keluar dari tenda kami. dan ia mengikutinya.
diketinggian tampak jelas lampu kota yang indah bukan saja kerinci tapi sungai penuh hingga kota bangko juga jelas tampak. sejenak hati saya mulai tenang. saya melihat apapun yang dibawah begitu kecil. begitupun yang dibawah, melihat kami yang diatas begitu juga kecil. saya jadi sadar orang orang sombong seperti itu. melihat orang lain kecil ia sampai sampai tidak sadar orang orang melihatnya juga tampak kecil.
saya mulai membuka tas kecil yang saya sandangi, terdapat beberapa peralatan penting seperti powerbank, hp, dan rokok. rokok penting? ya untuk saat ini saya rasa demikian. walaupun saya tau adalah racun yang selalu masuk disetiap hisapannya. ikwan mulai merasakan enak diparu parunya. tadi yang awalnya sangat sesak sekarang sudah mulai reda. saya menyarankan untuk dia pindah tenda. saya curiga kenapa ia tidak mau menoleh kearah saya, maklum kami dihutan ada ada saja yang bikin curiga dan ketakutan. karena ditenda yang kami tempati masih berbau asap rokok. aneh ikwan yang sebelumnya pernah merasakan merokok kemudian ia merokok. akibatnya ia jadi sesak dan membuat saya panik.
akhirnya ia pindah ditenda sebelah, alga pindah ketenda kami, layaknya transfer pemain. akhirnya kami tertidur.
bersambung
Komentar
Posting Komentar