kayu aro dingin
sejak pukul tujuh pagi, posko sepi. ada sih orangnya tapi pada tidur. dapat dipastikan mereka tidak sholat subuh kecuali imam masjid dan yang adzan dimasjid. saya berniat tidur lagi hanya niat. tapi niat tersebut saya tunaikan. saya bangun agak kesiangan itu pukul sembilan dan itu masih mending lah biasanya saya bangun jam dua belas siang. raja jin pangkal pandai kata pidi baiq. saya memang pemalas, tapi untuk apa saya rajin kalau saya merasa diri sudah pandai.
uh, hari sudah pukul satu siang, saya ingin permisi ke mereka anak posko anak ibunya juga. saya mau tidur siang itu tidak boleh diganggu gugat. berpisah kepada mereka tanpa rasa bersedih karena habis saya bangun mereka akan bertemu lagi dengan saya dengan kondisi sadar. inshaallah.
saya pergi kesana, bukan ke thailand. melainkan saya pergi ke kamar mandi bukan untuk mandi melainkan untuk mengambil wudhu yang ada dikamar mandi karena disana ada air. saya teringat kejadian malam tadi yang dimana saya bercerita kepada pendengar setia saya di posko. cerita tentang monster dan zaman nenek monyet. mereka ketawa padahal saya serius dan tidak ada niat untuk membuat mereka mentertawakan saya.
malam itu masih banyak dialog saya dengan teman teman satu posko saya. benar benar banyak saya ajak mereka berdebat. oh itu harus yaa! kamu tahulah tidak enak rasanya jikalau orang yang kita ajak berdebat dianya malah diam dan jngin mengakhiri perdebatan.
saya kesal sekaligus sedih. sedih karena kok merka gak percaya ya saya ngomong. padahal itu asli. monster itu ada kalau kalian mau percaya. tapi kejadian malam itu kita kesampingkan dulu.
pagi ini terasa dingin karena kamu tahulah ini kayu aro kayu kayu apa yang besar? ya kayu aro hahah. garing ya okelah.
ditambah lagi dengan gerimis yang dimana langit menurunkan air matanya yang menyebabkan bumi menjadi basah dan genteng juga basah ayam yang diluar juga basah kecuali kalau dia berteduh. orang orang bilang kalau saya gila. saya juga merasa demikian akhir akhir ini kok bisa ya. ada orang sewaras dan seserius mereka. itu membuat saya bingung.
teman teman yang lainnya ada yang pergi kepasar pasti mau ngajak penjual dipasar itu biacar dan ijab kabul. prngen beli istilahnya dan penjual nya menjadi penjual. earphones dio fadillah menemani saya dipagi hari. semua orang orang diposko ini sungguh membosankan ya. atau saya yang membosankan. tidak tahu. hanya allah yang maha tahu.
saya mau eek. tapi jangan bilang ke semua orang dan jangan buat pengunguman kalau teja sedang eek, aku takutnya diganggu. nanti tidak bisa keluar. keluar dari pintu maksudku. orang orang pada berisik, giliran saya berisik orang orang pda marah. ya marah, mungkin saya yang salah atau mereka punya masalahnya masing masing dan melampiaskannya ke saya.
ohh kayu aro mengapa emgkau begitu dingin dan sunyi? tidak ingatkah kau, aku pernah memberi kehangatan padanya dan malam. disaat ia butuh pelukan hangat dan disaat ia sedang lara? tapi mengapa sekarang engkau berikan kepadaku, dan tidak ada dia disampingku dan memberi kehangatannya lagi. oh aku rindu. dan kangen band. pada mentari pagi yang menghangati pagi itu bersamanya. sekarang biarlanlah aku pergi ke tempat yang seharusnya aku berada disana. nun jauh disana. tidak kenal dia. aku yang memulai segalanya tapi malah aku yang sangat kedinginan. ohhhhh.
Komentar
Posting Komentar