pencarian posko

 pencarian posko


wahai pembaca yang baik dan tersayang. ga tahu. semoga:) saya akan cerita melalui tulisan yang antah berantah dan tidak sesuai dengan eyd dan standar tulisan yang sebenarnya dan sesungguhnya. tapi tidak apa apa. awalnya saya ingin bercerita menggunakan bahasa thailand. tapi saya takutnya menyulitkan pembaca dalam menerjemahkannya. harus buka goegle translet atau mencari guru bahas thailand. cerita ini singkat seperti kisah cintamu.


rabu 1 juni 2022


cuaca mendung tatkala kami ingin berangkat dari sungai penuh ke kayu aro. gunung kerinci nun jauh disana jelas tampak. dibalik kabut yang tidak begitu tebal. saya dan teman teman peserta kkn menemui sekdes setempat, awalnya kami berurusan dengan kepala desa. karena ada satu hal yang membuat kami tidak bisa bertemu langsung dengan kepala desanya. 


sesampainya kami dikayu aro, kami langsung kerumah susan yang tidak jauh dari posko kami. susan warga kayu aro tepatnya kersik tuo. perempuan berkulit putih dan mata sipit layaknya orang tionghoa mengantarkan kami ke desa mekar jaya. dan kami bertemu dengan sekdes. kami disambut dengan hangat, sebagai petanda bahwa mereka menerima kami dengan baik.


kami sempat diberi pilihan, pilihan pertama rumah yang tidak dihuni selama satu bulan dan lumayan jauh dari tetangga. rumah kedua rumah yang berpenghuni dan berdempetan dengan yang punya rumah. kami akhirnya mengambil keputusan untuk memilih rumah yang pertama. alasan kami sederhana, kami tidak ingin membuat tetangga sekitar terganggu dengan kegiatan kami. maklum kami mahasiswa terkadang tugas yang kami buatkan sampai larut malam dan memaksa kami harus begadang.


setelah kami cocokkan harga, akhirnya kami bergegas untuk membersihkan rumah yang akan kami tempati dalam waktu sebulan. kami berterima kasih banyak kepada sekdes mekar jaya namanya pak andre yang sudah meluangkan waktunya untuk kami mencari rumah. jendela yang tidak menghadap matahari membuat cahaya tidak terlalu terang jika siang hari. cahaya yang masuk juga kurang.


gelapnya ruangan membuat kesan mistis, perempuan banyak yang ingin pindah. maklum orang yang takut biasanya ia tidak tahu makanya ia takut. kenapa harus takut gelap? bukan ruangan yang gelap hanya saja kurangnya intensitas cahaya. oh saya baru sadar kenapa orang orang yang berkulit putih selalu meremehkan orang yang berkulit gelap. padahal belum tentuborang yang berkulit gelap itu jahat dan menakutkan. tanpa hitam putih tidak sempurna begitupun sebaliknya. buat yang berkulit gelap jangan sedih, buat yang bekulit terang juga jangan terlalu merasa paling baik. tanpa tuts hitam piano tidak merdu didengar. 


oh iya saya belum memperkenalkan diri. teja patri sandi pria yang kerap disapa teja, nja, tejo, jo bebas mau panggil apa asal jangan dipanggil sang pencipta. saya ketua rombongan sekaligus ketua posko. saya sangat antusias, perasaan. tapi entahlah. 


kami berdua belas. 4 orang laki laki dan selebihnya perempuan. semua akan saya ceritakan dan perkenalkan satu persatu. tapi nanti, janji. 


setelah selesai beres beres saya dan teman teman lainnya mulai kelaparan. akhir dari perdebatan kami akhirnya kami memutuskan untuk makan di tepi jalan, warung makan. pecel ayam. sedikit melepaskan perut kami yang lapar. kami berbincang hangat dan sekaligus diskusi masalah sewa kontrakkan kami yang tadi. belum sempat nego soalnya.


sebagian dari kami tidak langsung pulang ke sungai penuh, susan dan reza tidak ikut kami. mereka orang kayu aro dan punya rumah disana. kami singgah sebentar dirumah neneknya delvi. delvi gadis tamiyai yang ngekos di sungai penuh. hanya saja rumah neneknya di sako dua 20 menit dari posko kami yang terletak di mekar jaya. kami minum teh hangat buatannya. sempat ditawarkan kopi panas, tapi saya lebih memilih teh. alasan saya sederhana. dikebun teh enaknya minum teh langsung dari sumbernya. teh yang tadinya hangat, tak lama kembali dingin. maklum cuaca setempat sangatlah dingin yang membuat diri butuh pelukan. hehe. berhubung teh yang mulai dingin, kami diajak oleh yang punya rumah untuk main ke kebun dibelakang rumah. semua senang dan suka. memetik jeruk juga jambu langsung dari pohonnya.


tak lama setelahnya kami akhirnya mulai membicarakan harga kontrakan yang baru saja kami dengar bersama. awalnya semua setuju. tapi pada akhirnya semua pada komplain. bukan komplain masalah harganya tapi kami saja yang iri melihat teman teman seperjuangan kami yang dapat didesa lain dan tidak membayar apapun sepersen pun. sedih tapi pasti ada yang baik setelahnya. saya percaya.


cerita ini akan bersambung, ah entahlah. tunggu saja. tunggu hari berikutnya

Komentar

Postingan Populer