RUMAH

  saat itu kita duduk di tepi jendela, memandang orang orang yang berlalu lalang. beraktivitas seperti biasanya. sepi mungkin orang orang masih dikamarnya. obrolan kita diiringi dengan kokok ayam tetangga. aku yang banyak bicara dan kau yang diam saja, aku yang tampil gugup tatkala bercerita dan kau yang memandang mata kiriku dengan senyum tipismu. dan manis. tapi yang pasti tidak ada hp diantara kita.

  kita ghibah perihal teman yang sedang jatuh hati sesama peserta kkn lainnya. padahal kurasa kita juga demikian. tidak tahu. atau cuman perasaanku saja. ah sudahlah.

  tidak ada semerbak hisapan rokok yang aku hirup disela canda kita. tumben gunung kerinci cantik. tapi aku tidak peduli dengan mentari pagi. ada kau didepanku, apa yang lebih cantik dari itu? 

  kau yang mendengarkan ku bercerita tentang kebiasaan burukku. sesekali kau memberi tanggapan dan saranmu. aku suka.  katamu apapun itu kau akan mendengarkan. walau kau tidak terlalu mengerti jelasnya. yang terpenting kita berbagi cerita. kau yang awalnya temanku balas balasan story di ig akhirnya menjadi temanku untuk cerita perihal diriku dan dirimu.

  kau ingat? saat kita berjalan menyusuri kota kelahiranmu. kau yang senang bercerita denganku sepanjang jalan itu dan pagi masih dingin. haha katamu kita marathon, tapi kita malah jalan. langkahmu menuntun langkahku.

  kau tahu? aku merasa manusia paling beruntung. tidak perlu jauh jauh menyambangi gunung tertinggi atau laut terdalam. denganmu dijalan yang kumuh sekalipun, sudah terasa indah buatku. aku yang ngos ngosan ketika berjalan denganmu, membuat aku yang kau ledekin. hm tidak apa apa, denganmu aku sudah merasa gembira. walaupun pegal tapi tidak apa apa.

  sembari menoleh kearahmu, kau tersenyum. tersipuh malu. tapi kita berdua sadar debarannya sekencang apa. 

  hari demi hari berlalu. kita sudah banyak berubah. layaknya manusia biasa kita merasa jenuh dan bosan. kecewa patah hati, penghianatan itu. semua ketidakpedulian itu. kadang aku ingin mengakhiri semuanya dan pergi, jauh pergi, tapi entah bagaimana. aku selalu yakin kau adalah rumah. tempat aku pulang. hm sore itu, kita diem dieman. kau yang membawa durian kesukaanmu. langsung saja aku tersenyum tipis. layaknya orang yang tidak ingin tapi mau. 

  semua yang hancur akan pulih jika kita susun puing demi puing. tapi satu hal yang pasti. perasaan untukmu hanya bisa bertambah, dan terus bertambah. percayalah semua akan baik baik saja. 

anjing




Komentar

Postingan Populer