HUJAN

 perempuan meneteskan air dipelupuk matanya yang sayu, mungucur deras pada wajahnya nan ayu, lembut bagai bianglala. indahnya bak cahaya dibibir cakrawala. ceritakan; seberapa besar kepedihan yang dia kirimkan.

hampir tak ada manusia berlalu lalang. aku yang terpogoh untuk jatuh, kau yang acuh. kau ingat, saat langit memuntahkan cairannya, kita berdua diatas roda. jas hujan menyelimuti kita dikala itu, kita menolak akan kehadiran hujan yang jatuh tetes demi tetes, katamu batu yang keraspun akan menemui hancur kala air yang terus menetes. tapi kita berdua saja. cara dudukmu lucu.

sesekali kau bercerita tentang rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya sampai pintumu tertutup rapi. bahkan aku tak kau bolehkan untuk masuk lebih dalam. 

sementara kita menyanyikan lagu favorit dibawah rintik sedu kala itu, dingin. cinta yang tersisa hanyalah puing demi puing. air hujan menghapus jejak roda, sementara tidak ada api unggung yang akan menyambut fajar kala itu. ada kamu dibelakangku apa yang lebih hangat daripada itu. 

bersikeras abadi untuk masuk ke relung. kau masih menutupnya, bukalah sedikit, tidak ternganga berikan ruang itu. yang fana itu waktu, kita abadi; memungutnya detik demi detik, merangkainya seperti bunga bahkan aku lupa untuk apa. "tapi, yang fana itu adalah waktu bukan?

pada suatu ketika jatuhku sudah mulai sembuh, dan kau tak kunjung membuka ruang untukku. biarkan hujan ini akan berakhir sebagaimana mestinya, seperti yang aku katakan dahulu. tapi dalam bait bait sajak ini, kau tak kurelakan sendiri. bahkan saat kau lebih memilih masa lalumu aku akan tetap saudaramu sebagaimana sumpah kita muharam itu, tapi diantara sajak sajak ini kau tetap kusiasati. 

seperti kata sapardi "aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. (aku ingin)


Komentar

Postingan Populer