HILANG

 ketika awan sore terbuka jelas, matahari sedang  indah indahnya di ufuk barat, janjinya akan ditepati seperti yang sudah sudah; akan tenggelam disudut kotamu. bayang bayang kita lucu, helm hitammu menutupi ayu wajahmu. "lampu sennya dimatiin lah, kamu kayak emak emak" ucapmu saat itu. kita berdua saja.

kita tersesat tak tahu arah tujuan, padahal jalan yang kau tempuh biasanya pun tak tahu akhirannya. sementara aku sibuk menerka nerka. 

diantara roda dua yang berjalan beriringan, orang orang tampak berlalu lalang, kau malah mengajakku ketempat yang biasa kau menghabiskan waktu. katamu ada film baru yang keluar. conjuring, aku hanya mengamini. kursi yang seharusnya pembatas antara manusia yang satu dan manusia lainnya karena covid, aku tidak peduli dengan aturan. aku duduk sibelahmu. tanganmu diatas tanganku, jemari kita saling beradu, aku merasakan getarannya sekencang apa. kau ingat? saat itu minyak telonmu hilang, haha. matamu indah.

waktu waktu terdiam sejenak, aku merasa senang. kita yang awalnya penyuka metal dan lagu lagu klasik, malah menyanyikan lagu blackpink. kau tahu, karenamu aku jadi tertarik dunia perkpop-an. haha kita lucu.

ujung siang tak terasa jelas "kita dimana?" menyusuri mall, orang orang mencari hiburan. ada kamu digenggamanku apa yang lebih menghibur dari itu semua. kau malah mengajakku masuk. kita seperti anak sma yang cabut dari sekolah lalu ke bioskop. sampai kita gaib begitu saja. tanganmu menarik tanganku.

alur cerita? aku tak tahu. jarak kursi pembatas menjadi penghalang, aku kesal. entah aku yang keras kepala. aku ingin disebelahmu. menatapmu lebih dekat semua terasa lebih indah. tanganmu yang dingin jelas terasa. orang orang tak terdengar, enyah dalam kesunyian. masing masing bergandengan. 

malam tak terdengar dinginnya. kau tahu, aku merasa manusia paling bahagia didunia saat itu, walpaper hpmu anime! hpmu tidak ada baterai. aku menyelinap. kepalamu dibahuku. tangan kita masih saja beradu sampai film ini selesai. andai saja kita tidak berjauhan. pastinya cinta ini tak ada habisnya. bukankah kau juga begitu?

kita keluar, menyusuri kota kelahiranmu, masih diatas roda dan lampu yang sedang indah indahnya. diam jangan bergerak! cerita ini belum usai. desir angin sama sama kita rasakan, kau tak pernah melihat angin tapi kau merasakan angin itu disekujur tubuhmu. kau merasakannya bukan?

saat itu kita duduk memandang seberang, aku yang banyak bicara dan kau hanya mengaminkan saja. kita beli jajanan pinggiran, dompetku yang pas pasan. sekali lagi maafkanlah. bayang bayang sebermula. wanita berjiwa rapuh mengharapkan kasih sayang ayah. tapi kau denganku bukan? hanya kita berdua saja kan?

kita bergandengan, kau ingat? sepanjang jalan itu, ditengah keramaian itu. dibibir sungai itu. kau ingat? atau kau melupakan semua itu? tidak ada yang diabadikan, hanya memori kita yang bisa menggambarkan jelas hari bahagia itu. 

dipinggiran aku malah membuatnya serasa berhenti, rasa yang tak tertahankan malah aku ungkap. seperti katamu dulu, kau tak bisa menjalin hubungan dengan siapapun. satu sisi hatiku lega mengungkapkan perasaan, disisi lain kita menjadi asing. tapi mengapa kau beri harapan setinggi langit hanya untuk kau jatuhkan? 

tapi kita masih berbalas pesan bukan! ucapmu pada wajahku yang murung. tak tahu persis yang kurasakan saat itu, yang jelas hatiku terluka, luka yang menganga memberikan jarak diantara kita. sesaat dijalan pulang, aku ingin kau memelukku erat erat, pertanda semua tidak baik baik saja.

dengan rasa bersalah aku ingin melupakan segala kejadian itu, hari hari bahagia itu ingin ku hapus. aku pulang kau menang. alasanku sederhana, bersamamu aku menemukan kedamaian. alasanku sederhana setidaknya aku punya jawaban dari semua anganku.

hari demi hari, kita sudah banyak berubah, kembali asing sediakala. aku yang banyak bicara dan kau diam saja kembali menerka. ada yang hilang. bagaimana bisa coretan itu terjalin lagi? 

lagi lagi aku melakukan pembenaran, masih menganggapmu ada. walau air mata mengucur deras.  kita saling menguatkan bukan saling melemahkan bukan. kurasa itu hanya pikiranku yang bodoh saja. 

terimakasih atas segala rasa, setidaknya aku pernah mendamba tanpa didamba, peduli walau tak terbalas. setidaknya aku pernah tahu bahwa bagiku kau tak pernah menjelma apa. 

akankah aku kembali dalam satu purnama? menanyakan kembali apa kabarnya, siapa dengannya? mempertanyakan kembali cintanya. akankah? perlukah? bukan untuk siapa. karena aku inginmu.




Komentar

Postingan Populer