KKN

 

1.

 Izinkanlah aku bercerita tentang masa laluku. Hanya memberitahukan seperti apa kehidupanku semasa itu dan ada. Ini kenangan masa laluku dari kehidupan selama kkn. Ini hanyalah cerita versiku, dari sudut pandangku yang aku proses dengan caraku sendiri. Tentu saja tidaklah sempurna dan tidak terlau lengkap karena ini hanya satu sisi saja. Ini hanyalah sebagian kecil dari kenangan yang aku kumpulkan. Tentu saja aku tidak terlalu ingat secara jelas, manusiawi. 

Mungkin bukanlah hal yang terlalu menarik, dan tidak apa apanya di dikacamatamu orang yang tua terutama. Tapi aku tetap akan menulis. Sebagai pertanda dan kenangan bahwa aku pernah hidup dibumi yang fana ini. Mudah mudahan ada hikmahnya, atau apapun itu yang bisa diambil dalam tulisan ini. Semoga membuatmu terhibur dan semoga bisa membuatmu tertawa kecil ditengah hidupmu yaang sedih.

2.

TEPAT PADA JAM empat ketika adzan sudah berkumandang dan orang orang yang keluar beribadah dan berlalu lalang, Teja masih diatas terbaring diatas kasurnya, bedcover yang putih membuat apapun barang kecil terlihat jelas jika diatasnya. Bantal merah selalu menjadi penopang kepalanya. Cat dinding bewarna hitam yang dipenuhi poster band rock klasik menambah kesan bahwa kamar lelaki. Ponselnya berdering sedari tadi, ia tak kunjung bangun. Notifikasi dilayarnya dipenuhi pesan grup dan ada beberapa pesan pribadi dari temannya-menanyakan; "mau mengambil didesa apa kknnya?" alih-alih untuk dapat didesa yang jaringan telpon lumayan bagus, telat semua telat.

                Ia terbangun dari tidurnya setelah mendengar puluhan kali telpon berdering, sesaat membuka hpnya. Teja mendapatkan pesan dari teman virtualnya yang ia kenal seminggu yang lalu. Namanya susan destrilita mahasiswa matematika yang kuliah di IAIN, menwa, parasnya yang memiliki jiwa kelaki lakian menambah kesan jantan ada dalam dirinya. Putih sipit sebagai dasar dari kecantikkannya. Dia baik.

    "Kersik tuo sudah penuh"

      Pernyataan singkat dari susan

    "Begini, aku tidak terlalu tahu kayu aro. Kurasa kamulah orang yang tepat untuk menyarankan aku untuk memilih desa apa"

    "maksud kamu, kamu ingin ikut denganku karena aku orang kayu aro gitu?"

    "baiklah, kita ambil di mekar jaya, tidak jauh dari rumahku, kalau butuh keperluan apa apa jadinya buisa ambil dirumahku saja"

    Ucap susan pada chatnya

    Teja hanya mengamini, setelah berbincang dengan gadis kayu aro tadi. Teja mengkonfirmasi ke teman temannya yang satu lokal dengannya, satu circle lebih tepatnya. Semua ingin bersama sama, tapi siakad berkata lain. Tujuh orang dalam grup chat tersebut akhirnya terbagi pada tiga kelompok atau tiga desa.

                Dio fadillah, seorang pria berketurunan minang tulen, beralamat di pasaman sumatra barat, hitam tinggi dengan badannya yang kurus menambah kesan bahwa ia adalah seorang anak kos. Kosnya tidak terlalu jauh dari kampus, tapi ia selalu telat pada mata saat mata kuliah berlangsung. Pria yang tidak bisa kerja mengandalkan otot tersebut malah lemah gemulai.

                Tidak hanya dio, nora yulianti. Wanita yang ambisius dalam hal akademis. Sehingga membuat ia tidak terlalu asik, seperti kebanyakan orang yang terlalu menonjol dibidang akademis. Terlalu serius. Ketika perkuliahan dimulai, ia selalu bertanya dan berdebat kusir. Padahal hal yang sepele pun ia debatkan untuk mencari titik terang.pakainnya yang serba tertutup menambah kesan bahwa ia adalah muslim sejati. Tidak tahu dalam lubuk hatinyayang terdalam.

                Teja patri sandi, pria yang akrab disapa tejo, nja,jo, mas, dan banyak lagi penggilannya yang lain. Beda orang, beda lagi panggilannya. Ia tidak marah. Bukankah ketika kita dipanggil nama yang berbeda menmbah kesan bahwa kita sedikit spesial bukan? Pria yang ,menyukai musik ini menjelma menjadi penulis yang amatir.dapat diapastikan orang seperti ini sangat puitis dalam hal percintaan. Yap teja selalu gagal dalam hal asmara. Entah dirinya yang kurang beruntung atau wanita yang ia temui tidak tepat dan waktu yang salah. Mungkin. Bagi teja sendiri musik adalah separuh jiwanya, tanpa musik ia tidak tahu harus melakukan apa. Jatuh hati punya lagu tersendiri buatnya, ketika patah hati juga lain lagunya.

                Menulis merupakan kegiatannya selain bermusik, tidak ada darah seni yang ada pada orang tuanya yang mengalir. Tidak tahu kenapa ia sangat menyukai hal hal yang berbau seni. Ia selalu berkata ‘menulislah agar dirimu tetap hidup, walau jasadmu tidak ada lagi, menulislah agar anak cucumu tahu bahwa kau pernah hidup dan meninggalkan kenangan selama di bumi”

                Surat edaran dari kampus sudah terbit, mahasiswa yang akan menjalani kkn akan melakukan choacing yang bertempat di kampus dua di sungai liuk. Kampus utama yang lumayan besar, gedung gedung yang dibuat lima tahun yang lalu. Seperti rumah susun yang tidak terlalu estetik. Beda dengan kampus yang ada diluar kerinci. Maklum masih institut. Tapi kalau dipikir pikir, dengan mahasiswa yang ribuan mengapa tidak kalau kampus melakukan pembangunan besar besaran. Bukankah itu menambah minat orang orang untuk kuliah disana? Bukankah begitu? Tapi lupakan sajalah perihal itu. Biarlah menjadi urusan orang orang yang terlibat. Demopun tidak akan menyelasaikan masalah.

                Malam sebelum pagi, ia mendapatkan berita duka dari keluarganya. Kakak iparnya, lebih tepat suami dari sepupunya meninggal dunia, yang membuat ia sibuk tak karuan kesana kemari untuk mengurus acara adat yang akan dilangsungkan besok pagi. Pikirannya kacau, bercampur aduk. “akankah aku hadir diacara coaching besok, sedangkan keluaragaku dan aku sendiri mengalami berita duka?” Sedikit bisacara masalah ‘meninggal dunia yang disebut orang berduka cita. Teja adalah seseorang yang tidak terlalu sedih dalam hal meninggal dunia. Bukankah kalimat innalillahi wainnalillah hi rojiun itu milik allah dan semuanya kembali pada Allah. Coba renungkan kalimat itu sejenak. Jadi mengapa kita harus bersedih dalam waktu yang berkepanjangan?

3.

  TEJA segera mengenakkan handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Ibunya tidak ada dirumah, ngelayat dirumah saudaranya. Yang tidak jauh dari rumahnya. Jarak beberapa rumah, lima rumah menghadap barat.

                Sesampainya ia dikampus, dia terkejut melihat manusia yang begitu banyaknya. Teja yakin sekali bahwa ia tidak bisa akrab dengan temannya yang satu desa degannya di posko nanti. Pertanyaannya hanya satu.  “dimana susan yang ia kenal seminggu yang lalu?” Mengapa orang mau dijemurkan diluar?” panas panas begini” dari kejauhan dia bertemu kosma lokal B, Roki ikwan dan teman temannya yang lain, dibawah pohon yang daunnya mulai rontok, di tepian parkir kampus.

                sumber suara didepan asih mengaung samar samar. pertanda bahwa acara choacing sudah dimulai, layaknya mahasiswa yang bodoamat dengan instruksi. ia masih saja ngobrol dengan temannya bersamaan tembakau yang baru saja ia bakar. Teja jongkok sejenak, mengatur hisapan tembakau yang asapnya tidak terlalu mengebul keangkasa, dan mulai bergabung mahasiswa yang lain tepat dibelakang barisan.

                lamat lamat suara instruksi dosen terdengar olehnya

                “yang dari desa mekar jaya silahkan ambil barisan sebelah kiri”

                tentu saja membuatnya bergegas memasuki barisan dikerumunan. temannya satu posko sudah menunggu nya seperti orang yang kehilangan arah dan tak tahu siapa saja orangnya.

                “kamu ketua posko ya” ujar perempuan yang bernama susan.

                “langsung keruang lp2m lantai dua” sahut temannya yang lain, tidak tahu itu siapa

                sejenak laki laki tersebut berpandangan dengan anggota yang lain.

                “aduuuuh, kok aku sih ketuanya, gaada yang lain apa?”

                “masa iya cewek yang jadi ketuanya”

                Teja membungkuk sejenak, mengatur nafasnya sendiri. sementara anggota yang lain masih saja bersi teguh untuk menjadikkannya sebagai ketua, ia hanya mengamini suara terbanyak. namun aketua posko yang lain sudah memesuki ruangan.

ketika ia keluar dari ruangan, pertanda bahwa choaching sudah selesai, ia mulai mengajak angghota yang lain untuk duduk diskusi di pemda untuk membahas keperluan apa saja yang akan dibawa. mulai dari kompor, galon, tiokar hingga iuran perminggu.

                hasil diskusinya adalah; Teja membawa penanak nasi bersamaan dengan susa, silvany membawa alat masak, beberapa anak kos tidak membawa apa apa. maklum mereka sendirian dikota ini.

                 pencarian posko

wahai pembaca yang baik dan tersayang. ga tahu. semoga:) saya akan cerita melalui tulisan yang antah berantah dan tidak sesuai dengan eyd dan standar tulisan yang sebenarnya dan sesungguhnya. tapi tidak apa apa. awalnya saya ingin bercerita menggunakan bahasa thailand. tapi saya takutnya menyulitkan pembaca dalam menerjemahkannya. harus buka goegle translet atau mencari guru bahas thailand. cerita ini singkat seperti kisah cintamu.

 

rabu 1 juni 2022

 

cuaca mendung tatkala kami ingin berangkat dari sungai penuh ke kayu aro. gunung kerinci nun jauh disana jelas tampak. dibalik kabut yang tidak begitu tebal. saya dan teman teman peserta kkn menemui sekdes setempat, awalnya kami berurusan dengan kepala desa. karena ada satu hal yang membuat kami tidak bisa bertemu langsung dengan kepala desanya. 

 

sesampainya kami dikayu aro, kami langsung kerumah susan yang tidak jauh dari posko kami. susan warga kayu aro tepatnya kersik tuo. perempuan berkulit putih dan mata sipit layaknya orang tionghoa mengantarkan kami ke desa mekar jaya. dan kami bertemu dengan sekdes. kami disambut dengan hangat, sebagai petanda bahwa mereka menerima kami dengan baik.

 

kami sempat diberi pilihan, pilihan pertama rumah yang tidak dihuni selama satu bulan dan lumayan jauh dari tetangga. rumah kedua rumah yang berpenghuni dan berdempetan dengan yang punya rumah. kami akhirnya mengambil keputusan untuk memilih rumah yang pertama. alasan kami sederhana, kami tidak ingin membuat tetangga sekitar terganggu dengan kegiatan kami. maklum kami mahasiswa terkadang tugas yang kami buatkan sampai larut malam dan memaksa kami harus begadang.

 

setelah kami cocokkan harga, akhirnya kami bergegas untuk membersihkan rumah yang akan kami tempati dalam waktu sebulan. kami berterima kasih banyak kepada sekdes mekar jaya namanya pak andre yang sudah meluangkan waktunya untuk kami mencari rumah. jendela yang tidak menghadap matahari membuat cahaya tidak terlalu terang jika siang hari. cahaya yang masuk juga kurang.

 

gelapnya ruangan membuat kesan mistis, perempuan banyak yang ingin pindah. maklum orang yang takut biasanya ia tidak tahu makanya ia takut. kenapa harus takut gelap? bukankah ruangan yang gelap hanya saja kurangnya intensitas cahaya. oh saya baru sadar kenapa orang orang yang berkulit putih selalu meremehkan orang yang berkulit gelap. padahal belum tentu orang yang berkulit gelap itu jahat dan menakutkan. tanpa hitam, putih tidak sempurna. begitupun sebaliknya. buat yang berkulit gelap jangan sedih, buat yang bekulit terang juga jangan terlalu merasa paling baik. tanpa tuts hitam piano tidak merdu didengar. 

 

bisik terdengar, ketika susan berbincang dengan pemilik rumah, mas gogo. tak tahu apa yang dibicarakannya, yang lain sibuk room tour, mengecek sana sini memastikan bahwa tempat yang akan kami tempati benar benar layak dan nyaman. 

"mas teja, pengesahan tahun berapa?" ujar mas gogo 

sontak saya terkejut, "kok dia tahu kalau aku seorang warga sh" tanyaku dalam hati.

"oh iya mas, pengesahan tahun 2017" sembari berjabat tangan.

"oh berarti barengan kita, saya juga tahun itu mas teja. masnya dari capil kalau tidak salah ya? saya masih ingat, 4 orang yang botak dari capil. siswanya mas edi capil."

"tepat sekali mas, ternyata kita saudara"

"bawa sakralnya mas, kalau udah disini. kebetulan saya punya siswa"

"baik mas akan saya bawakan" ucapku seolah olah ingin mengakhiri pembicaraan mengenai topik tersebut. bukan apa apa, tujuanku kesini hanya untuk mencari posko. bukanlah begitu?

saya ketua rombongan sekaligus ketua posko. saya sangat antusias, perasaan. tapi entahlah. 

 

kami berdua belas. 4 orang laki laki dan selebihnya perempuan. semua akan saya ceritakan dan perkenalkan satu persatu. tapi nanti, janji. 

 

setelah selesai beres beres saya dan teman teman lainnya mulai kelaparan. akhir dari perdebatan kami, akhirnya kami memutuskan untuk makan di tepi jalan, warung makan. pecel ayam. sedikit melepaskan perut kami yang lapar. kami berbincang hangat dan sekaligus diskusi masalah sewa kontrakkan kami yang tadi. belum sempat nego soalnya.

 

sebagian dari kami tidak langsung pulang ke sungai penuh, susan dan reza tidak ikut kami. mereka orang kayu aro dan punya rumah disana. kami singgah sebentar dirumah neneknya delvi. delvi gadis tamiyai yang ngekos di sungai penuh. hanya saja rumah neneknya di sako dua 20 menit dari posko kami yang terletak di mekar jaya. kami minum teh hangat buatannya. sempat ditawarkan kopi panas, tapi saya lebih memilih teh. alasan saya sederhana. dikebun teh enaknya minum teh langsung dari sumbernya. teh yang tadinya hangat, tak lama kembali dingin. maklum cuaca setempat sangatlah dingin yang membuat diri butuh pelukan. hehe. berhubung teh yang mulai dingin, kami diajak oleh yang punya rumah untuk main ke kebun dibelakang rumah. semua senang dan suka. memetik jeruk juga jambu langsung dari pohonnya.

 

tak lama setelahnya kami akhirnya mulai membicarakan harga kontrakan yang baru saja kami dengar bersama. awalnya semua setuju. tapi pada akhirnya semua pada komplain. bukan komplain masalah harganya tapi kami saja yang iri melihat teman teman seperjuangan kami yang dapat didesa lain dan tidak membayar apapun sepersen pun. sedih tapi pasti ada yang baik setelahnya. saya percaya.

 

cerita ini akan bersambung, ah entahlah. tunggu saja. tunggu hari berikutnya

sore ketika malam menjelang, teja masih kepikiran tentang posko yang ia kunjungi tadi siang. masih saja menghantui pikirannya. ia masih ingat ketika empunya rumah berkata "kamar yang tengah jangan ditempatin, itu tempat almarhum sholat" sontak itu menjadi buah pikir seorang pemuda tersebut.

"susan, apa kamu tidak merasa lain dikamar kamar yang sudah kita kunjungi tadi?"

"aku merasa ada yang aneh, akupun bermimpi, ada nenek nenek yang menangis dikamar yang ketiga disebelah kamar mandi. akan tetapi aku tidak terlalu menghiraukannya. aku rasa itu pertanda bahwa; empunya rumah berterimakasih kepada kita dikarenakan kita sudah membersihkan rumahnya. lagipula delvi orangnya sensitif ia bisa melihat hal hal demikian. dia melihat ada kakek kakek dikamar tengah" jawab susan pada kolom chat

sontak membuatnya kaget mendengar cerita itu. tak lama waktu berselang, ia mendapati kabar bahwa reza anggota lainnya yang menawarkan rumah kontrakan dimekar jaya rumah saudaranya. dengan harga yang lumayan murah ketimbang dengan rumah yang mereka survei tadi. langsung saja semuanya tertarik dan ingin membatal rumah tersebut.

    hari-hari kemudian berlalu begitu saja, hari sabtu. semua sudah siap untuk bepergian ke kayu aro, tepat pada pukul 12:00 teja masih menunggu jemputan dari temannya yang punya mobil pick up. semua sudah sepakat untuk menyewa mobil pickup tersebut, dengan bayaran 40 ribu perorang. dan melaju kerumah masing masing.

    sesampainya disimpang sungai tanduk ketika hendak memasuki mekar jaya, teja dan teman temannya yang lain singgah dipersimpangan untuk menanyakan kepastian "jadi dirumah yang mana akan kita tempati" reza menghampiri mereka. 

 "susan tidak ada dirumahnya, dia keladang kata tetangganya".  reza dengan terengah engah

"jadinya kita harus tinggal dimana. coba hubungi dia lagi" jawab teja dengan merasa kebingungan.

"yaudah kita kerumah saudaramu dulu za, kasian orang tua orang tua teman kita sudah menunggu lama"

   mereka disambut hangat oleh pemilik rumah, kondisi rumah sudah layak betul untuk ditinggali. pemandangan yang bagus, diatasnya swarga villa yang menjadi spot bagus ketika untuk foto foto, masih menjadi tren kala itu. didepan rumah terdapat pemakamam umum, menambahkan kesan sedikit seram. hari itu langit sedang tidak bagus bagusnya, memuntahkan air mata diangkasa, membasahi tubuh mereka. ditambah lagi cuaca dikayu aro yang begitu dingin. 

tak lama kemudian susan pun datang menanyakan kembali 'bagaimana kepastiannya'  namun penat dan letihnya akibat perjalanan tadi mendadak hilang setibanya susan. tidak tahu mengapa. yang jelas kita harus cari jalan keluar, itulah yang ada dipikirannya. yang mereka takutkan adalah terjadi apa apa selama kkn berlangsung. tidak ingin adanya kesurupan yang mereka alami. 



 

 

Komentar

Postingan Populer