belum ada
"apakah takdir itu memang ada? kalaupun ada. aku bahkan tidak menyadarinya akhir akhir ini. tidak menyadari kalau kita tidak akan bertemu selama tiga tahun ke depan." ucapku pada yana
suasana hening seketika, bersamaan dengan suara orang orang disekitar berlalu lalang. kami duduk di kursi paling ujung di sebuah cafe bandara soekarno hatta. orang tuaku sibuk mengemasi koper, sementara aku dan yana masih membicarakan bagaimana hubungan kami.
"sesampainya di sana, kamu jangan banyak macam-macam ya, walaupun di sana banyak cewek cantik, jagan sampai berpaling" ucap yana sembari mengelus jariku. matanya tidak menatapku, pertanda bahwa dia tidak sanggup dengan semua ini.
sementara bunyi operator bandara masih mengumumkan keberangkatan untuk selanjutnya.
jam sudah menunjukan pukul 14:00 WIB, yang berarti dua jam lagi keberangkatan dari indonesia ke jepang. aku harus bersiap siap untuk berangkat, tidak ada cendera mata atau kenangan berharga yang aku berikan untuk yana, selain kalimat harapan yang sedari dulu aku rangkai, supaya dia baik baik saja selama di indonesia.
kami tidak pacaran, hts. ya betapa aku benci harus mengatakan kalau aku ada perasaan sama dia. bukan apa apa, tapi ada trauma yang mendalam dengan kata "tembak". aku adalah lelaki yang terlalu naif dalam segala hal. sering di tolak cewek hanya karena aku tidak mengerti fashion. baju dan celanaku sering tidak matching. seperti jamet kuproy yang sedang viral viralnya sekarang. bisa dibayangkan celanaku sempit di bagian bawah besar bagian paha.
tapi itu dulu, sebelum aku kenal dengan yana. yana adalah perempuan yang berhasil mengubah penampilanku. dari aku yang tidak tahu apa-apa soal fashion sekarang lebih menghargai yang mamanya kombinasi warna, ukuran baju dan celana harus pas. dan banyak lagi aku pelajari darinya. katanya, tidak perlu mengikuti outfit-outfit zaman, cukup menjadi dirimu sendiri saja sudah membuatmu terlihat bagus. dulu, aku sangat suka pakai kaos band dengan celana denim yang selalu terpampang di kakiku. semenjak berat badanku naik menjadi 80 kg dengan tinggi 162, membuat aku tidak cocok lagi pakai celana dalam yang besar. terlalu terlihat gendut, itulah yang selalu aku katakan di depan cermin.
acap kali yana menghindari pertanyaan yang mengarah ke hubungan kami. tapi sebelum melangkah lebih jauh, aku butuh penjelasan walau pada akhirnya kami akan tidak bertemu dalam 3 tahun yang akan datang. kami mulai dekat semenjak aku mereply storynya di ig. hingga berlanjut sampai sekarang. aku tidak siap dengan jawabannya jujur saja. apalagi dia yang belum siap dengan hubungan jarak jauh.
Komentar
Posting Komentar