“Hubungan kita mau mau dibawa kemana”
Tanya Sandi dengan nada datar sambil menarik nafas panjangnya.
“Maksudnya? Ya kita kan temenan kamu sudah tahu itu sejak dulu”
Jawab Nisa dengan percaya diri. 

 Nisa sering menghindari pertanyaan semacam itu dengan candaan. Terkadang ia sering mengalihkan pembicaraan. Ini kesekian kalinya pertanyaan itu dilontarkan. Mereka sudah berteman sejak masih duduk di bangku SMA. Ketika itu Sandi sering bolak balik di perpustakaan SMA. Nisa acap kali membaca buku di pojok lemari buku filsafat. Terlihat aneh anak SMA membaca buku filsafat yang kala itu sangatlah rumit, tidak hanya rumit, bahasanya pun susah untuk di cerna oleh anak SMA. filsafat merupakan buku yang paling di hindari di perpustakan kala itu. Akan tetapi Nisa sangatlah menikmati. Sandi yang sedang mencari komik jepang tidak bisa melepaskan pandangannya ke arah Nisa. Laki-laki 17 tahun itu seperti tersambar petir melihat ke arah Nisa, dipikirannya ‘kok ada ya cewe menyukai filsafat’ Sandi dulunya pernah membaca buku filsafat milik ayahnya ‘dunia shopie’ hanya 10 halaman, ia berhenti tertarik pada buku semacam itu.

Perlahan Sandi mulai mendekat hendak menyapa dan ingin berbincang. Kendati demikian, Nisa beranjak dari kursinya dengan satu buku putih di genggamannya dan meninggalkan perpustakaan. Sialnya ia tak melihat ke arah Sandi sedikitpun, ia berlalu begitu saja seolah tak ada orang di depannya. Nisa salah satu perempuan yang sangat dingin, gayanya tomboi ala ala gadis kala itu yang referensinya mengarah ke metal pada tahun itu. Di saat perempuan kala itu memakai style Widi vokalis vierra, ia tetap percaya diri dengan gayanya. Headset yang melekat di telinga, sepatu converse all star yang tidak dicuci selama sebulan layaknya Kurt Cobain. Gelang yang banyak menambah kesan seperti Avril lavigne. 

Sebelumnya mereka tidak akrab, perbandingan yang jauh antara cowo Wibu dan cewe metal menambah kesan tidak mungkin mereka bisa berteman akrab. Nisa adalah tipe pelajar yang bisa mengalihkan perhatian guru agar bisa tidur di kelas. Tapi nilainya sangat bagus, ia pernah menjadi juara 2 cerdas cermat antar sekolah se-kota Sungai penuh. Komentar orang orang sudah pasti ‘gayanya tidak sesuai dengan otaknya’ menyebalkan emang. Sementara Sandi tipe pelajar yang selalu mencatat apa yang di jelaskan guru saat jam pelajaran, ia adalah wakil ketua kelas IPS 1. Sandi tidak terlalu menonjol dikelas tapi ia sangatlah berisik di tongkrongan. Tanpa adanya Sandi tongkrongan terasa sepi. Ia bagaikan badut yang selalu menghibur orang orang tatkala teman temannya di hukum setiap senin. Sandi selalu merasa beruntung ketika mendapatkan rangking 10 besar. Ia beranggapan bahwa rangking yang ia raih adalah hasil dari jabatannya di kelas. Meskipun ketua kelas jarang masuk sekolah, tugas dari walikelas selalu di limpahkan padanya. 

Nisa dan Sandi memiliki teman yang sama yaitu Wilda. Wilda adalah tetangga Sandi yang sering minta boncengan saat hendak ke sekolah, orang tua Sandi sering menanyakan kelakuan Sandi di sekolah ke Wilda. Bisa di bilang Wilda adalah mata mata ibunya yang dimana Sandi pun tidak tahu. 

Pada saat libur Nisa sering bermain ke rumah Wilda. Suatu ketika ia lewat rumah Sandi, Sandi diam seribu bahasa. Ketika ia melewati tembok pagar, ia berbalik arah, dan menyapa.
“Lu Sandi cowo wibu itu ya?”
Tanya Nisa dengan wajahnya yang datar.
“Nih komik lu ketinggalan di perpus kemaren, gw baru tahu lu suka one piece juga”
Sambung Nisa.
Sandi masih saja diam dan tak bicara apapun.
“Selain wibu lu ga bisa ngomong juga ternyata”
“Ya makasih udah balikin buku gw”
“Gw bukan minjem, ngapain juga gw pinjem komik lu gw juga punya dirumah”
“Lu suka one piece juga” 
Tanya Sandi.
Nisa berlalu tanpa menjawab pertanyaan itu. Dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah Wilda.

Itu adalah hari pertama mereka bertegur sapa, setelah puluhan kali bertemu di perpus. Sandi sangat mengagumi Nisa, tak salah lagi sejak hari itu. Ia sering konsultasi dengan Wilda, walaupun sebelumnya mereka bercerita hanya secukupnya saja.

Hari senin pagi, kala itu Sandi telat datang apel pagi. Akibat begadang semalaman, tidak seperti biasanya. Yang telat adalah teman temannya tapi kali ini yang telat adalah dirinya dan Nisa. Mungkin ini hari sial bagi Nisa tapi tidak dengan Sandi. Sandi mencoba untuk rileks dan mulai memecahkan hening. 
“Cewe sedingin elu bisa telat juga”
Tanya Sandi.
“Setiap orang pasti punya masa sial, kesialan gw ditambah lagi dengan pertanyaan semacam itu”
Jawab Nisa dengan galaknya.
“Lu kenapa telat?”
Tanya Sandi.
“Gw ketinggalan angkot”
“Gw juga ketinggalan angkot tadi gara gara buat tugas presentasi”
Sambung Sandi. Itu adalah pernyataan bohong. Sebenarnya ia begadang karena kelamaan pilih pilih bokep. Alhasil klimaks nya 3 jam. Dan ia telat.
“Oh iya makasih ya udah nemuin komik gw, gw nyarinya setengah mati, karena gw belum baca seluruhnya. Belum lagi gw baca ulang.”
“Gimana menurut elu tentang NIKA (nika adalah awekening luffy karakter utama one piece)”
Tanya Nisa sambil berpegangan di pagar sekolah yang di depannya masih terdengar jelas pidato dari wakil kepalas sekolah.
“Menurut gw sih oke oke aja ya, keren sih apalagi saat lawan kaido” 
Jawab teja. Gimana menurut lu?
“Gw kurang setuju dengan adanya awekening luffy. Lebih tepatnya gw ga suka timingnya. Menurut gw terlalu cepat. 





Komentar

Postingan Populer